Minggu, 17 Januari 2016

Rencana Pemasaran D'Hijab

GUNADARMA University www.gunadarma.ac.id

   Rencana pemasaran yang saya lakukan untuk menjalankan bisnis jualan hijab online adalah dengan menyebarkan info mengenai akun D'Hijab disekitar lingkungan pergaulan saya, dan saya membuat promo-promo untuk menarik minat pembeli.
      Jadi strategi pemasaran saya adalah strategi mouth to mouth. Dan untuk strategi promosi ada bermacam-macam tergantung dari jenis hijabnya dan disesuaikan dengan modal yang diperlukan dan ha

Modal Usaha D'Hijab

GUNADARMA University www.gunadarma.ac.id

         Melanjutkan tulisan saya yang sebelumnya mengenai berjualan hijab online, tentu diperlukannya modal usaha untuk menjalankan bisnis tersebut. Karena ini merupakan bisnis berjualan secara online maka modal yang diperlukan tidak terlalu besar karena tidak diperlukannya biaya untuk menyewa tempat serta biaya-biaya lainnya yang diperlukan jika membuka sebuah toko.
         Biaya yang diperlukan untuk membuka bisnis ini adalah internet serta pulsa. Untuk biaya membeli barang untuk dijual, karena saya memesan hanya jika terdapat pesanan maka biaya yang dikeluarkan untuk membeli barang tidak besar. Kira-kira modal yg diperlukan sebulannya sekitar 300 ribu bisa kurang bisa juga lebih tergantung dari jumlah pesanan yg ada. Modal yang digunakan berasal dari hasil tabungan uang jajan saya sendiri.

Sabtu, 02 Januari 2016

AYAH YANG KAYA, AYAH YANG MISKIN PART 2

GUNADARMA University www.gunadarma.ac.id

Karena saya mempunyai dua ayah yang berpengaruh, saya belajar dari mereka berdua. Saya harus memikirkan nasihat masing-masing ayah, dan dalam melakukan ini, saya memperoleh wawasan berharga tentang kekuatan dan pengaruh pikiran sesorang pada hidupnya. Misalnya, ayah yang satu mempunyai kebiasaan mengatakan. “Saya tidak mampu membelinya.” Ayah yang lain melarang penggunaan perkataan seperti itu. Dia mendesak saya untuk berkata. “Bagaimana saya bisa membelinya?” Yang satu adalah pernyataan dan yang satunya lagi adalah pertanyaan. Yang satu melepaskan anda dari kesulitan, yang satunya lagi memaksa anda untuk berpikir. Ayah saya yang-segera-menjadi-kaya akan menjelaskan bahwa secara otomatis mengucapkan perkataan, “Saya tidak bisa membelinya,” otak anda berhenti bekerja. Sebaliknya, dengan mengajukan pertanyaan, “Bagaimana saya bisa membelinya?” maka otak anda harus bekerja. Yang dia maksudkan bukanlah membeli segala sesuatu yang anda inginkan. Dia fanatik dalam hal melatih pikiran anda, komputer paling hebat di dunia. “Otak saya semakin kuat setiap harinya karena saya melatihnya. Semakin kuat otak saya, semakin banyak uang yang saya hasilkan.” Dia percaya bahwa selalu mengatakan. “Saya tidak bisa membelinya” adalah sebuah tanda kemalasan.
Meskipun kedua ayah saya bekerja keras, saya memperhatikan ayah yang satu mempunyai kebiasaan menidurkan otaknya bila sampai pada urusan uang, sementara yang satunya mempunyai kebiasaan melatih otaknya. Hasil jangka panjangnya adalah bahwa ayah yang sama tumbuh lebih kuat secara finansial dan yang satunya lebih lemah. Ini tidak jauh berbeda dengan orang yang pergi ke pusat kebugaran untuk berolahraga secara rutin versus seseorang yang setiap hari duduk di sofa menonton tv. Latihan fisik yang pas dan cocok meningkatkan peluang kesehatan anda, dan latihan mental yang pas dan cocok meningkatkan peluang kemakmuran anda. Kemalasan menurunkan baik kesehatan maupun kemakmuran.
Kedua ayah saya mempunyai sikap yang bertentangan dalam cara berfikir. Ayah yang satu berpikir bahwa yang kaya harus membayar pajak lebih banyak untuk membantu dan memelihara mereka yang kurang beruntung. Satunya lagi berkata, “Pajak menghukum mereka yang berproduksi dan menghadiahi mereka yang tidak berproduksi.”ayah yang satu merekomendasikan, “Belajarlah yang giat sehingga kamu dapat menemukan sebuah perusahaan yang baik untuk bekerja.” Satunya lagi merekomendasikan, “Belajarlah yang giat sehingga kamu menemukan perusahaan yang baik untuk kamu beli.”
Yang satu mangatakan. “Alasan saya tidak kaya adalah karen saya mempunyai kamu, nak.” Satunya lagi mengatakan, “Alasan saya harus kaya adalah karena saya mempunyai kamu, nak.”
Yang satu mendorong untuk membicarakan soal uang dan bisnis di meja makan. Satunya lagi melarang keras untuk membicarakan masalah uang saat makan.
Yang satu berkata, ”Bila sampai pada urusan uang, bermainlah dengan aman, jangan mengambil resiko.” Satunya lagi mengatakan, “Belajarlah mengelola resiko.”
Yang satu percaya, “Rumah kita adalah investasi terbesar kita dan juga aset kita yang terbesar.” Satunya lagi percaya, “Rumah saya adalah liabilitas (kewajiban), dan jika rumahmu adalah aset terbesar, kamu akan mendapat masalah.”
Kedua ayah saya membayar rekening pada waktunya, tetapi yang satu membayar rekeningnya duluan (sebagai hal yang pertama) sementara yang satunya lagi membayar rekeningnya belakangan.
Yang satu percaya bahwa perusahaan atau pemerintah akan mengurus anda dan kebutuhan anda. Dia selalu peduli dengan kenaikan upah, program pensiun, tunjangan kesehatan, cuti sakit, hari libur, dan berbagai perbaikan lainnya. Dia terkesan dengn dua pamannya yang bergabung dengan militer dan memperoleh tunjangan pensiun dan berbagai keuntungan lainnya. Terkadang, gagasan perlindungan kerja untuk kehidupan dan keuntungan kerja tampak lebih penting daripada pekerjaan itu sendiri.
Satunya lagi percaya pada sikap mandiri penuh dalam soal finansial. Dia dengan lantang menentang mentalitas “berhak” dan bagaimana hal itu menciptakan orang yang lemah dan sangat miskin secara finansial. Dia sangat tegas dalam menjadi kompeten secara finansial.
Ayah yang satu berjuang keras untuk menabung beberapa dolar. Sedangkan satunya lagi sibuk menciptakan investasi.
Ayah yang satu mengajarkan saya bagaimana menulis resume yang mengesankan sehingga saya bisa mendapatkan pekerjaan yang baik. Satunya lagi mengajar saya bagaimana menulis rencana bisnis dan finansial yang kuat sehingga saya bisa menciptakan pekerjaan bagi orang lain.
Menjadi produk dua ayah yang kuat dan berpengaruh memberi saya kesempatan mewah untuk mengamati pengaruh pikiran yang berbeda pada hidup seseorang. Saya memperhatikan bahwa orang sungguh-ssungguh membentuk hidup mereka melalui pikiran mereka.
Contohnya, ayah saya yang miskin selalu berkata, “Saya tidak akan pernah kaya.” Dan ramalan itu menjadi kenyataan. Ayah saya yang kaya, sebaliknya, selalu menunjuk dirinya sebagai orang yang kaya. Dia akan mengatakan hal-hal seperti ini. “Saya orang yang kaya, dan orang kaya tidak melakukan hal ini.” Bahkan ketika dia benar-benar bangkrut setelah menderita kemerosotan finansial yang hebat, dia terus menunjuk dirinya sebagai orang yang kaya. Dia akan menutupi dirinya dengan mengatakan, “Ada perbedaan antara menjadi miskin dan menjadi bangkrut. Bangkrut adalah untuk sementara waktu, dan miskin adalah untuk selamanya.”
Ayah saya yang minskin juga akan mengatakan, “Saya tidak tertarik pada uang,” atau “Uang tidak penting.” Ayah saya yang kaya selalu mengatakan.” Uang adalah kekuatan, kekuasaan.”
Jadi kekuatan pikiran kita mungkin tidak pernah diukur atau dihargai, tetapi menjadi jelas bagi saya bocah yang masih muda untuk menyadari pikiran saya dan bagaimana saya mengekspresikan diri saya. Saya memperhatikan bahwa ayah saya yang miskin adalah miskin bukan karena jumlah uang yang dia hasilkan, yang sebenarnya besar, tetapi karena pikiran dan tindakannya. Sebagai anak muda, dan memupunyai dua ayah, saya menjadi benar-benar sadar untuk berhati-hati memilih pikiran-pikiran mana yang akan saya ambil sebagai pikiran saya sendiri. Siapa yang harus saya dengarkan-ayah saya yang kaya atau ayah saya yang miskin?
Meskipun kedua pria itu mempunyai respek yang sangat tinggi terhadap pendidikan dan pembelajaran, mereka tidak sepakat dalam apa yang mereka pikir penting untuk dipelajari.
Yang satu menginginkan saya belajar keras, memperoleh gelar, dan mendapat pekerjaan baik untuk menghasilkan uang. Dia menginginkan saya untuk belajar menjadi seorang profesional, seorang pengacara, atau akuntan atau ke sekolah bisnis untuk mendapat gelar MBA. Satunya lagi mendorong saya untuk belajar menjadi kaya, untuk memahami bagaimana uang bekerja, dan belajar bagaimana membuat uang bekerja untuk saya. “Saya tidak bekerja untuk uang!” adalah perkataan yang dia ulang berkali-kali, “Uang bekerja untuk saya!”
Pada umur 9 tahun, saya memutuskan untuk mendengarkan dan belajar dari ayah saya yang kaya mengenai soal uang. Karena itu, saya memilih untuk tidak mendengarkan ayah saya yang miskin, sekalipun dia memiliki semua gelar universitas.

Sumber:

Kiyosaki, Robert T. 1998. Rich Dad, Poor Dad. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

AYAH YANG KAYA, AYAH YANG MISKIN PART 1

GUNADARMA University www.gunadarma.ac.id

Saya mempunyai dua ayah, yang satu kaya dan yang satu miskin. Yang satu berpendidikan tinggi dan inteligen; dia mempunyai gelar Ph.D. dan menyelesaikan empat tahun pendidikan sarjananya hanya dalam waktu kurang dari dua tahun. Kemudian dia melanjutkan studinya ke Stanford University, University of Chicago, dan North-western University, semuanya dengan beasiswa penuh. Ayah yang satunya tidak pernah menyelesaikan pendidikan SMP-nya.
Kedua ayah saya itu berhasil dalam karier mereka, bekerja keras seumur hidup mereka. Keduanya memperoleh penghasilan besar. Tapi yang satu berjuang keras atau bersusah payah secara finansial sepanjang hidupnya. Sedang yang satunya kelak menjadi salah satu orang terkaya di Hawaii. Yang satu mati meninggalkan puluhan juta dolar untuk keluarganya, amal kasih, dan gerejanya. Yang satunya mati meninggalkan banyak tagihan/utang untuk dibayar atau dilunasi.
Kedua pria itu kuat, kharismatik, dan berpengaruh. Keduanya memberi saya nasihat, tetapi nasihat mereka tidak sama, bahkan kerap sangat berbeda dan bertentangan. Keduanya dangat percaya pada pendidikan tetapi tidak merekomendasikan jalur studi yang sama.
Seandainya saya hanya mempunyai satu ayah, saya harus menerima atau menolak nasihatnya. Mempunyai dua ayah yang menasihati saya menawarkan pada saya pilihan sudut pandang yang berbeda, satu dari pria yang kaya dan satunya dari pria yang miskin.
Ternyata saya tidak sekedar menerima atau menolak yang satu atau yang lain, tetapi saya berpikir lebih jauh, membanding-bandingkan dan kemudian memilih untuk diri saya sendiri.
Masalahnya adalah ayah yang kaya belum sungguh-sungguh kaya dan ayah yang miskin tidaklah miskin. Keduanya baru saja memulai karier mereka, dan keduanya berjuang keras dalam soal uang dan keluarga. Tetapi mereka mempunyai pandangan yang berbeda tentang masalah uang.
Misalnya ayah yang satu akan mengatakan, “cinta akan uang adalah akar segala kejahatan.” Yang lain mengatakan, “Kekurangan uang adalah akar segala kejahatan”.
Sebagai anak muda, mempunyai dua ayah yang kuat dan berpengaruh pada saya bukanlah soal mudah. Saya ingin menjadi anak yang baik dan mendengarkan, tetapi kedua ayah tu tidak mengatakan hal yag sama. Pebedaan pandangan mereka, terutama bila menyangkut soal uang, begitu ekstrem sehingga saya tumuh dengan rasa ingin tahu yang besar. Saya mulai berpikir untuk jangka waktu yang lama tentang apa yang dikatakan oleh mereka masing-masing.
Banyak waktu pribadi saya habis untuk merefleksikan, bertanya-tanya dalam hati, “Mengapa ayah berkata begitu?” dan kemudian menanyakan pertanyaan yang sama terhadap perkataan ayah yang satunya lagi. Akan jauh lebih mudah untuk mengatakan, “Ya, dia benar. Saya setuju dengan itu.” Atau menolak sudut pandangnya dengan mengatakan, “Ayah tidak tahu apa yang dia omongkan.” Sebaliknya mempunyai dua ayah yang saya cintai memaksa saya untuk berpikir dan akhirnya memilih suatu cara berpikir untuk diri saya sendiri. Sebagai sebuah proses, memilih (sudut pandang yang berbeda/bertentangan) untuk diri saya akhirnya jauh lebih berharga untuk jangka panjang, ketimbang Cuma menerima atau menolak satu sudut pandang.
Salah satu alasan yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin, dan kelas menengah terjerat utang adalah karena masalah uang diajarkan di rumah, dan tidak di sekolah, kita kebanyakan belajar soal uang dari orangtua kita. Artinya, apa yang didapat diajarkan oleh orangtua yang miskin kepada anak-anak mereka mengenai uang? Mereka hanya mengatakan, “Teruslah sekolah dan belajarlah yang giat, “Si anak mungkin lulus dengan peringkat yang mengagumkan tetapi dengan sikap mental dan program finansial orang miskin. Itu dipelajari sewaktu anak tersebut masih muda.

Uang tidak diajarkan di sekolah. Sekolah berfokus pada keterampilan di bidang pelajaran dan keterampilan profesional, bukan pada keterampilan finansial. Ini menjelaskan bagaimana bankir, dokter, dan akuntan yang pandai dan memperoleh ranking yang tinggi di sekolah masih harus berjuang secara finansial sepanjang hidup mereka. Utang nasional kita yang menggunung sebagian besar disebabkan karena para politikus dan pejabat pemerintah yang berpendidikan tinggi membuat keputusan finansial dengan sedikit atau bahkan sama sekali tanpa latihan mengenai masalah uang.


Sumber:
Kiyosaki, Robert T. 1998. Rich Dad, Poor Dad. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

INILAH YANG SAYA CARI-CARI

GUNADARMA University www.gunadarma.ac.id

CASHFLOW (arus kas), produk pendidikan baru yang dikembangkan oleh Robert Kiyosaki. Tetapi produk ini, yang berupa permainan, mempunyai sebuah metode yang khusus: permainan ini mirip seperti papan monopoli yang berwarna-warni dengan seekor tikus raksasa berpakaian bagus ditengahnya. Akan tetapi tidak seperti monopoli, dipapan itu ada dua jalur: satu didalam dan satu diluar. Tujuan permainan ini adalah keluar dari jalur yang didalam-yang disebut oleh Robert adalah “Perlombaan Tikus”-dan mencapai jalur yang diluar-“Jalur Cepat”. Seperti yang Robet katakan, jalur cepat menstimulir bagaimana orang-orang kaya bermain dalam kehidupan riil.
“Jika anda melihat kehidupan orang-orang yang pendidikannya sedang-sedang saja dan bekerja keras, ada jalan yang serupa. Anda dilahirkan dan pergi ke sekolah. Orangtua bangga dan senang karena anaknya unggul, memperoleh nilai baik dengan jujur, dan diterima disebuah universitas bergengsi. Anak itu lulus, mugkin melanjutkan ke program pasca sarjana, dan kemudian melakukan persis seperti yang telah diprogramkan: mencari sebuah pekerjaan atau karier yang aman dan terjamin. Si anak mendapatkan pekerjaan itu, mungkin sebagai seorang dokter atau pengacara, atau bergabung dengan Angkatan Bersenjata atau menjadi pegawai negeri. Biasanya, si anak mulai menghasilkan uang, kartu kredit mulai dikoleksi, dan belanja pun dimulai.
“Karena sudah mempunyai uang untuk dibelanjakan, sang anak pergi ke tempat-tempat di mana anak-anak muda lainnya senang berkumpul, dan mereka bertemu banyak orang, mereka berkencan, dan kadang-kadang menikah. Saat ini aktivitas hidup telah berubah sangat banyak, karena sekarang, baik pria maupun wanita bekerja. Dua penghasilan dalam sebuah keluarga tentu menggembirakan. Mereka merasa berhasil, masa depan cerah, dan mereka memutuskan untuk membeli rumah, mobil, televisi, berlibur, dan mempunyai anak. Segumpal kegembiraan tiba. Permintaan uang tunai sangat besar. Pasangan yang bahagia itu memutuskan bahwa karier mereka sungguh sangat penting dan mereka pun mulai bekerja lebih keras, mencai promosi dan kenaikan gaji maupun jabatan. Kenaikan-kenaikan pun datang, dan mereka juga mempunyai seorang anak lagi sehingga membutuhkan rumah yang lebih besar.
Mereka bekerja lebih keras, menjadi karyawan yang lebih baik, bahkan lebih berdedikasi. Mereka bersekolah kembali untuk memperoleh keterampilan yang lebih terspesialisasi dengan harapan bisa menghasilkan uang lebih banyak. Mungkin mereka mencari kerja tambahan atau sambilan. Penghasilan mereka pun naik, tetapi pajak-pajak yang harus mereka bayar pun semakin bertambah: pajak atas rumah baru yang lebih besar, pajak kendaraan, dan pajak-pajak lainnya. Mereka memperoleh cek gaji yang besar, dan bertanya-tanya kemana larinya seluruh uang itu. Mereka membeli beberapa reksa dana (mutual funds) dan membeli kebuthan rumah tangga dengan kartu kredit. Anak-anak berumur 5 atau 6 tahun, dan kebutuhan untuk menabung agar mereka kelak bisa kuliah juga naik, begitu pula kebutuhan menabung untuk hari tua (masa pensiun) mereka.
“Pasangan bahagia itu, yang lahir 35 tahun yang lalu, sekarang terperangkap dalam perlombaan tikus selama sisa harihari kerja mereka. Mereka bekerja untuk para pemilik perusahaan mereka, atau untuk pemerintah, untuk membayar pajak, hipotek bank, dan tagihan kartu-kartu kredit.
“Kemudian, mereka menasehati anak-anak mereka sendiri untuk rajin belajar, memperoleh ranking yang baik, dan mendapatkan pekerjaan atau karier yang aman dan terjamin.” Mereka tidak belajar apapun tentang uang, kecuali dari mereka yang mendapat keuntungan dari kenaifan mereka, dan bekerja keras sepanjang hidup mereka. Proses itu terulang dalam generasi berikutnya yang bekerja keras. Ini adalah “Perlombaan Tikus”.
Satu-satunya cara untuk keluar dari “Perlombaan Tikus” adalah membuktikan keahlian mereka baik dalam akuntansi maupun investasi dengan memperdebatkan dua topik yang paling sulit untuk dikuasai. Meskipun saya senang karena mereka semua belajar begitu banyak hal, saya sangat terusik oleh ketidaktahuan mereka mengenai dasar-dasar akuntansi dan investasi yang sederhana. Mereka sulit untuk menangkap hubungan antara laporan laba rugi dan neraca mereka. Ketika mereka membeli dan menjual aset, mereka sulit untuk mengingat bahwa setiap transaksi dapat mempengaruhi uang kas bulanan mereka. Saya pikir, berapa juta orang di dunia riil bersusah payah secara finansial, hanya karena mereka tidak pernah diajari masalah ini?
-Sharon Lechter

Sumber:

Kiyosaki, Robert T. 1998. Rich Dad, Poor Dad. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Jumat, 01 Januari 2016

ADA SUATU KEBUTUHAN

GUNADARMA University www.gunadarma.ac.id

Apakah sekolah menyiapkan anak-anak kita untuk menghadapi dunia yang riil? “Belajarlah yang giat dan raihlah angka yang baik, dan kamu akan mendapatkan pekerjaan yang berupah tinggi dengan tunjangan dan keuntungan yang besar,”, begitu kata orang tua saya dulu. Tujuan hidup mereka dahulu adalah agar kakak perempuan saya dan saya bisa kuliah di perguruan tinggi, sehingga kami akan mempunyai peluang yang sangat besar untuk berhasil dalam hidup kami. Ketika akhirnya saya meraih gelar diploma saya pada 1976-lulus dengan predikat tinggi, dan nyaris yang teratas dikelas saya, dalam bidang akuntansi dari Florida State University-orangtua saya menyadari tujuan mereka. Menurut “Rencana Tuhan”, saya dipekerjakan oleh perusahaan akuntansi “Big 8”, dan saya mengharapkan karier panjang dan pesiun di usia muda.
Suami saya, Michael, mengikuti jalan yang serupa. Kami berdua berasal dari keluarga pekerja keras, kekayaan pas-pasan, tetapi dengan etika kerja yang kuat. Michael juga lulus dengan predikat tinggi, dan ia melakukannya dua kali: pertama sebagai insinyur dan kemudian dari sekolah hukum. Dengan cepat ia direkrut oleh sebuah biro hukum Washington D.C. bergengsi yang bergerak khusus dalam hukum paten, dan masa depannya tampak cerah, jalur kariernya dirancang baik, dan dijamin bisa pensiun muda.
Meskipun kami sukses dalam karier kami, hal itu tidaklah memberikan hasil seperti yang kami harapkan. Kami berdua telah berganti posisi beberapa kali-karena alasan-alasan yang tepat-tetapi tidak ada rencana pensiun yang dibuat demi kepentingan kami. Dana pensiunan kami tumbuh hanya berdasarkan konstribusi individual kami.
Pernikahan saya dan Michael sungguh luar biasa dan kami dianugerahi tiga anak yang hebat-hebat. Ketika saya menulis buku ini, dua anak kami masih kuliah dan satu baru masuk SMA. Kami menghabiskan uang untuk memastikan anak-anak bisa memperoleh pendidikan sebaik mungkin.
Suatu hari pada tahun 1996, salah satu anak saya pulang ke rumah dengan penuh rasa kecewa terhadap sekolah. Dia bosan dan capai belaja, “Mengapa saya harus menghabiskan waktu untuk mempelajari hal-hal yang tidak akan pernah saya gunakan dalam kehiduan riil?” katanya protes.
Tanpa pikir panjang, saya langsung menjawab, “ Karena bila kamu tidak memperoleh ranking yang baik, kamu tidak akan bisa diterima di universitas.”
“Tak peduli apakah saya akan kuliah di perguruan tinggi atau tidak,” jawabnya, “saya akan kaya”.
“Jika kamu tidak lulus dari perguruan tinggi, kamu tidak akan mendapatkan pekerjaan yang baik,” jawa bsaya degan nada panik dan sikap peduli yang keibuan. “Dan jika kamu tidak mempunyai pekerjaan yang baik, bagaimana kamu merencanakan untuk menjadi orang kaya?”
Putra saya menyeringai dan perlahan-lahan menundukkan kepalanya dengan ogah-ogahan. Kami sudah membicarakan hal ini banyak kali. Ia merendahkan kepalanya dan memuar-mutar matanya. Kata-kata kebijaksanaan saya yang keibuan sekali lagi masuk telinga kanan keluar telinga kiri.
Meskipun cerdas dan berkemauan kuat, ia selalu merupakan pemuda yang ramah dan penuh hormat.
“Bu,” ia mulai. Giliran saya yang “dikuliahi”. “Ikutlah perkembangan zaman! Lihatlah sekeliling Ibu. Saya kira Ibu juga tahu bahwa banyak orang yang sangat kaya tidak memperoleh kekayaan mereka karena pendidikan mereka. Lihatlah Michael Jordan dan Madonna. Bahkan Billl Gates, yang dropped out dari Harvard University, telah mendirikan Microsoft; sekarang ia merupakan orang terkaya di Amerika, padahl umurnya baru 30-an. Ada orang pitcer bisbol yang menghasilkan lebih dari 4 juta dollar setahun sekalipun ia telah dicap ‘diragukan secara mental’”.
Kesunyian yang panjang menyelimuti kami. Saya tidak pernah menduga bahwa saya memberi anak saya nasihat yang sama dulu diberikan orangtua saya kepada saya. Dunia sekitar kita telah berubah, bahkan sangat cepat, tetapi nasihat yang kita berikan tidak atau belum berubah.
Memperoleh pendidikan yang baik dan meraih ranking yang baik tidak lagi menjamin kesuksesan, dan tak seorang pun tampak memperhatikan hal itu, kecuali anak-anak kita.
“Bu,” lanjutnya, “Saya tidak ingin bekerja sama kerasnya seperti yang Ibu dan Ayah lakukan. Ibu menghsilkan banyak uang, dan kita tinggal dalam rumah yang sangat besar dengn begitu banyak mainan. Jika saya menuruti nasihat Ibu, nasib saya pun akan berakhir seperti Ibu: bekerja keras dan makin keras hanya untuk membayar pajak yang lebih besar dan akhirnya hidup dalam hutang. Tidak ada keamanan kerja lagi; saya tahu tetang segala ukuran yang kurang dan ukuran yang tepat. Saya juga tahu bahwa lulusan universitas sekarang memperoleh penghasilan lebih sedikit daripada yang Ibu peroleh ketika Ibu baru lulus. Lihatlah para dokter. Mereka tidak menghasilkan uang sebanyak dulu. Saya tahu saya tidak dapat bersandar pada jaminan sosial atau perusahaan dana pensiun bila keluar dari tempat kerja. Saya membutuhkan jawaban-jawaban baru”.
Ia benar, ia membutuhkan jawaban-jawaban baru, demikian pula saya. Nasihat orangtua saya mungkin berhasil untuk orang-orang yang lahir sebelum tahun 1945, tetapi nasihat itu mungkin bisa menjadi bencana bagi kita yang lahir dalam dunia yang berubh dengan sagat cepat. Saya tidak bisa lagi hanya mengatakan kepada anak-anak saya, “Pergilah ke sekolah, raihlah nilai yang baik, dan carilah pekerjaan yang aman dan terjamin.”
Saya tahu saya harus mencari cara-cara baru untuk membimbing pendidikan anak-anak saya.
Sebagai seorang Ibu dan sekaligus seorang akuntan, saya prihatin dengan kurangnya pendidikan finansial yang diterima anak-anak kita di sekolah. Banyak dari anak-anak muda zaman sekarang ini mempunyai kartu kredit sebelum mereka lulus SMA, namun mereka tidak pernah mendapat kursus tentang uang atau bagaimana menginvestasikannya, apalagi tentang bagaimana cara kerjanya suku bunga kartu kredit yang berlipat ganda ini. Singkat kata, tanpa melek finansial dan pengetahuan tentang bagaimana cara uang bekerja, mereka tidak disiapkan untuk menghadapi dunia yang sedang menantikan mereka, sebuah dunia dimana pengeluaran lebih ditekankan daripada penabungan.
Ketika sebagai mahasiswa tingkat pertama anak tertua saya akhirnya terjerat hutang karena kartu-kartu kreditnya, saya tidak hanya membantunya untuk menghancurkan kartu-kartu kredit itu, tetapi saya juga pergi mencari sebuah program yang akan membantu saya mendidik anak-anak saya dalam masalah-masalah finansial.
Suatu hari di tahun lalu, suami saya menelepon dai kantornya, “Saya mendapatkan seseorang yang saya pikir harus kamu temui,” katanya. Namanya Robert Kiyosaki. Ia seorang usahawan dan investor, dan dia ada disini untuk mengajukan hak paten atas produk pendidikan. Saya kira inilah yang selama ini kamu cari.”

Sumber:

Kiyosaki, Robert T. 1998. Rich Dad, Poor Dad. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

ROBERT T. KIYOSAKI

GUNADARMA University www.gunadarma.ac.id

Dia mengajar orang untuk menjadi jutawan, itu sebabnya mereka menyebutnya guru sekolah jutawan.
“Alasan utama orang bersusah payah secara finansial adalah karena mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun di sekolah tapi tidak belajar apa pun mengenai uang. Hasilnya adalah, orang belajar bekerja untuk (mendapatkan) uang.. tetapi tidak pernah belajar agar uang bekerja untuk mereka,” kata Robert.
Robert, lahir dan dibesarkan di Hawaii, adalah generasi keempat keturunan Amerika-Jepang. Dia berasal dari keluarga pendidik yang terkemuka. Ayahnya adalah kepala pendidikan untuk negara bagiab Hawaii. Setelah SMU, Robert dididik di New York dan setelah lulus, dia bergabung dengan U.S. Marine Corps dan pergi ke Vietnam sebagai seorang perwira dan pilot helikopter yang dipersenjatai.
Kembali dari perang, karier bsnis Robert pun dimulai. Pada 1977, dia mendirikan sebuah perusahaan yang menjual ke pasar dompet yang terbuat dari nilon dan berlapis Velcro, yang berkmbang mejadi produk bernilai jutaan dolar yang mendunia. Dia dan produknya diulas secara mencolok dalam Runner’s World, Gantleman’s Quarterly, Success Magazine, Newsweek, dan bahkan Playboy.
Meninggalkan dunia bisnis, pada 1985 dia menjadi rekan-pendiri sebuah perusahaan pendidikan internsional yang beroperasi di tujuh negara, mengajar bisnis dan investasi kepada puluhan ribu lulusan. Program televisinya selama setahun bergema ke seluruh Amerika lewat Nostalgia Network, menyebarkan pesan pendidikannya.
Pensiun pada umur 47 tahun, Robert melakukan apa yang sangat dia sukai... investasi. Prihatin dengan jurang yang kian lebar antara “yang kaya” dan “yang miskin”, Robert meciptakan papan permainan CASHFLOW, yang mengajarkan permainan uang, yang sebelumnya hanya dikenal oleh orang kaya.

Meskipun bisnis Robert adalah real estate dan mengembangkan perusahaan topi yang kecil, cinta, dan gairahnya yang sejati adalah mengajar. Sebagai pembicara, dia bisa disejajarkan dengan Og Mandino, Zig Ziglar, dan Anthony Robbins. Pesan Robert Kiyosaki jelas, “Bertanggungjawablah atas keuangan anda atau terimalah perintah (orang lain) sepanjang hidup anda. Anda bisa menjadi tuan uang atau budak uang.” Robert memegang kelas yang berjalan dari 1 jam sampai 3 hari untuk mengajar orang-orang mengenai rahasia orang kaya. Meskipun topiknya terdiri atas investasi untuk mendapatkan laba yang tinggi dan beresiko kecil; mengajar anak-anak anda untuk menjadi kaya; memulai perusahaan dan mennualnya; dia mempunyai satu pesan solid yang menggetarkan dunia. Dan pesan itu adalah, Membangun Kejeniusan Finansial yang terbaring (tertidur) dalam diri anda. Kejeniusan anda menanti untuk keluar. Kebanyakan peserta menjadi sangat senang dan bergairah, sebagian marah, tetapi semua orang sangat tersentuh.

Sumber:
Kiyosaki, Robert T. 1998. Rich Dad, Poor Dad. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama