Senin, 11 April 2016

ASOSIASI PROFESI

GUNADARMA University www.gunadarma.ac.id

1. Ikatan Ahli Manajemen Proyek (IAMPI)

PENGANTAR
IAMPI adalah asosiasi profesi/kumpulan para praktisi Ahli Manajemen Proyek Indonesia dan didirikan di Jakarta pada tanggal 16 Juli 1999. Pendirian IAMPI disahkan oleh Notaris Agus Majid SH dengan Pernyataan (Akta) Pembentukan IAMPI No. 182 tertanggal 31 Juli 2000, dikukuhkan kembali terakhir pada tanggal 1 April 2014 melalui Akta Notaris No 01 oleh Notaris Dewi Tenty Septy Artiany, SH, M.Kn.

TUJUAN IAMPI
IAMPI suatu organisasi nirlaba yang bekerja untuk meningkatkan mutu pelaksanaan proyek dan program dengan menyediakan pelajaran manajemen proyek dan konsultansi dalam skala luas bagi stakeholder dan masyarakat.

PROGRAM IAMPI
  1. Keanggotaan
  2. Sertifikasi Nasional
  3. Seminar Nasional/Internasional
  4. Learning & Sharing PM
  5. Newsletter/Journal
  6. Kerjasama dengan Akademisi dan Business Partner (Training Standar Manajemen Proyek)
LAYANAN IAMPI
IAMPI menyediakan layanan:
A. Pelajaran manajemen proyek pada  Sektor konstruksi dan Non Konstruksi, khususnya pada Perusahaan/Instansi sebagai berikut:
  1. Penyedia Jasa Perencana (Konsultan Perencana)
  2. Penyedia Jasa Pengawas / Pengendali (Konsultan Pengawas & Manajemen Konstruksi).
  3. Penyedia Jasa Pelaksana ( Kontraktor )
  4. Penyedia Jasa Manajemen Proyek (Project Management Consultant)
  5. PenyediaJasa EPCI (Engineering, Procurement, Construction,Installation)
  6. Penyedia Jasa Perbankan, Keuangan & Asuransi
  7. Penyedia Jasa Telekomunikasi
  8. Penyedia Jasa Oil & Gas
  9. Penyedia Jasa Pertambangan & Energy
  10. Penyedia Jasa Pendidikan & Pemberdayaan  Masyarakat
  11. Pengguna Jasa (Pemilik Proyek, Pengguna Jasa, Pelanggan/Customer)
 B. Penelitian dan Pengembangan pada Penerapan System Manajemen Proyek/Program/Portfolio pada Sektor  Konstruksi dan Non Konstruksi.KODE ETIK DAN TATA LAKU PROFESI
Pada dasarnya seorang Ahli Manajemen Proyek dapat mempunyai kemampuan dan keahlian profesinya berkat usahanya disamping adanya Rahmat dan Karunia dari Tuhan Yang Maha Esa. Setiap usaha dan tindakannya harus selalu siap untuk bertanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa disamping kepada pihak lain yang berkepentingan yaitu kepada Pemberi Tugas, sesama rekan seprofesi, sesama rekan Ahli Profesi lain, Pemerintah, Masyarakat dan lingkungannya disamping kepada dirinya sendiri.
Ahli Manajemen Proyek adalah profesi yang berupaya dengan akal dan rasa, dengan sikap dan perbuatan untuk mendapatkan hasil kerja yang optimum dan serasi dalam penggunaan sumber-sumber daya dan dana, melalui suatu proses pembangunan seperti yang dikehendaki dalam batasan waktu, kuantitas, kualitas dan biaya.   
Ahli Manajemen Proyek adalah profesi yang didalam menjalankan tugasnya selalu bertindak untuk dan atas nama Pemberi Tugas dan merupakan tumpuan kepercayaan Pemberi Tugas, sehingga pelaksanaan proyek berjalan tertib, sesuai batasan permintaan dengan kendala kendala yang telah dikonfirmasikan persetujuannya oleh pihak Pengguna Jasa/Pemberi Tugas.
Untuk menjamin pelaksanaan tugas yang mulia ini dengan sebaik-baiknya, maka disusunlah ketentuan dasar Kode Etik dan Tata Laku yang wajib dipenuhi  dan dilaksanakan oleh setiap Anggota Ikatan Ahli Manajemen Proyek Indonesia.

KODE ETIK
Setiap Anggota IAMPI, wajib selalu bersikap, bertingkah laku dan bertindak berdasarkan etika umum seorang Ahli Profesional, yaitu:
  1. Penuh perhatian terhadap sesama(Caring for Others)
  2. Jujur terhadap diri sendiri dan lingkungannya (Honesty),
  3. Bertanggungjawab atas semua pikiran, ucapan dan tindakan yang dilakukannya (Accountability),
  4. Menepati janji (Promise Keeping),
  5. Bekerja dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang  baik dan sempurna (Pursuit of Excellence),
  6. Bersikap setia dan taat asas (Loyalty)
  7. Bersikap adil (Fairness),
  8. Mempunyai integritas dan komitmen terhadap tugas dan tanggung jawabnya (Integrity and Commitment),
  9. Dapat menghargai dan menerima pendapat orang lain (Respect  for Others)
  10. Bersikap, bertingkah laku dan bertindak sebagai warga Negara yang baik dengan penuh tanggung jawab (Responsible Citizenship) atas semua akibat yang mungkin terjadi. 

TATA LAKU PROFESI 
Setiap Anggota IAMPI, wajib mentaati dan melaksanakan Tata Laku Profesi bagi Anggota IAMPI, yaitu :
  1. Menjunjung tinggi kehormatan, kemuliaan dan nama baik profesi Manajemen proyek dalam hubungan kerjanya, baik dengan pihak pemberi tugas, sesama rekan seprofesi, sesama Rekan Ahli Profesi lain, Pemerintah dan Masyarakat.
  2. Bertindak jujur, adil, lugas dan transparan dengan penuh dedikasi dalam memberikan pelayanan baik kepada Pengguna Jasa maupun penyedia jasa lainnya tanpa merugikan para stakeholder lain termasuk Pemerintah dan Masyarakat.
  3. Saling bertukar pengetahuan dalam bidang keahliannya secara wajar dengan sesama  Rekan seprofesi dan atau Ahli Profesi lainnya.
  4. Selalu meningkatkan pengertian dan apresiasi Masyarakat   terhadap profesi Ahli Manajemen Proyek pada khususnya dan profesi lain pada umumnya sehingga Masyarakat dapat lebih menghayati peran dan hasil karya Profesional Ahli Manajemen Proyek.
  5. Menghormati prinsip pemberian imbalan jasa yang wajar, layak dan memadai bagi para Ahli Manajemen Proyek pada khususnya dan Ahli-ahli lain pada umumnya.
  6. Menghargai dan menghormati reputasi profesional Rekan Ahli Manajemen Proyek pada khususnya serta Rekan Ahli lain pada umumnya sesuai perjanjian kerja yang berhubungan dengan profesinya masing masing.
  7. Mendapatkan tugas berdasarkan standar keahlian, kemampuan dan kompetensinya secara profesional tanpa melalui jalan-jalan yang tidak wajar, antara lain dengan cara menawarkan komisi atau mempergunakan pengaruh yang tidak pada tempatnya.
  8. Bekerjasama sebagai Ahli Manajemen Proyek hanya dengan sesama  Rekan seprofesi, Tenaga Ahli dan / atau rekan Ahli Profesional lain yang memiliki integritas yang tinggi.
  9. Dalam melaksanakan tugasnya Seorang  Ahli  Manajemen Proyek harus selalu menjaga etika profesi terutama dalam bertindak sebagai tumpuan kepercayaan Pemberi Tugas.
  10. Seorang Anggota IAMPI, dianggap tidak melaksanakan tugasnya secara profesional bilamana:
10.1 Membocorkan dan/atau menyebarluaskan hal-hal yang bersifat pribadi dan rahasia bagi para Pengguna Jasa/Pemberi Tugas tanpa seijin yang bersangkutan.
10.2 Membocorkan dan atau menyebarluaskan hal-hal yang bersifat pribadi dan rahasia bagi para Pengguna   Jasa/Pemberi Tugas tanpa seijin yang bersangkutan.
10.3 Menerima pekerjaan, dimana pekerjaan  tersebut (Technically unqualified Job) secara teknis tidak memenuhi persyaratan.
10.4 Melakukan pekerjaan dan atau mempunyai perjanjian dengan pihak lain yang dapat mengganggu obyektivitas dan independensinya dilihat dari kepentingan Pengguna Jasa/Pemberi Tugas.
10.5 Tidak membicarakan dan menyepakati terlebih dahulu dengan Pihak Pengguna Jasa/Pemberi Tugas tentang besaran dan perhitungan imbalan jasa bagi tenaga ahli nya maupun biaya-biaya lain.
10.6 Melakukan hal-hal yang merendahkan harkat dan martabat sebagai Ahli Manajemen Proyek.

2. Persatuan Insinyur Indonesia (PII)
 
Pendirian
Berdiri tanggal 23 Mei 1952, di Bandung
Pendiri :
– Ir. Djuanda Kartawidjaja
– Dr. Rooseno Soeryohadikoesoemo

KODE ETIK
CATUR KARSA, PRINSIP-PRINSIP DASAR
  • Mengutamakan keluhuran budi.
  • Menggunakan pengetahuan dan kemampuannya untuk kepentingan kesejahteraan umat manusia.
  • Bekerja secara sungguh-sungguh untuk kepentingan masyarakat, sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya.
  • Meningkatkan kompetensi dan martabat berdasarkan keahlian profesional keinsinyuran.
  •  
    WARNA
    Warna dasar diambil orange, yaitu suatu warna yang diperoleh dari warna merah dan kuning, sehingga efeknya adalah lebih terang dari merah, tetapi lebih lembut dari kuning. Orange terletak di daerah setengah terang, sedangkan putih terletak di daerah terang sekali, sehingga kombinasi orange dengan putih pada lingkaran luar menghasilkan warna yang kontras tetapi tetapi tetap lembut.
    Untuk memberikan kontras kepada kedua kombinasi itu, maka warna hitam dimunculkan, sehingga secara keseluruhan tercapailah kombinasi warna yang harmonis. Dilihat dari pemaknaan warna, maka putih berarti suci atau keluhuran budi. Kombinasi warna tersebut melambangkan dinamika PII dengan keluhuran budi dan penuh kepercayaan dalam berkarya.
     
    FILOSOFI
    Ditinjau secara keseluruhan, maka kombinasi bentuk dan warna di atas mencapai keseimbangan yang harmonis, dan merupakan suatu komposisi bentuk dan warna yang seimbang, yang senantiasa dapat diletakkan di atas latar belakang dengan warna apapun tanpa mengurangi nilai dan artinya. Tafsiran secara lebih luas, bahwa PII berdiri teguh di atas kaki sendiri, berbakti untuk kemajuan bangsa Indonesia melalui ilmu pengetahuan dan teknologi, tidak terpengaruh oleh sesuatu aliran politik, dan memberi kontribusi nyata untuk kesejahteraan masyarakat











































    3. Di negara referensi Teknik Industri, Amerika, melalui lembaga profesi Institute of Industrial Engineers – www.iienet.org, terlihat bahwa alumni TI disana dibagi menjadi beberapa perkumpulan mencakup perkumpulan sistem kesehatan (SHS – Society of Health Systems), SEMS (Society of Engineering and Management Science), Engineering Economy,Quality and Reliability Management, Operations Excellence dan lainnya.


    Refrensi:

    http://www.lpjk.org/modules/asosiasi_profesi.php?page=3

    www.iampi.org

    http://industrialengineeringdepartment.blogspot.co.id/2014/01/profesi-teknik-industri.html

    Minggu, 06 Maret 2016

    TUGAS PERTAMA ETIKA PROFESI

    GUNADARMA University www.gunadarma.ac.id



    Etika berasal dari kata ethos (bahasa Yunani) yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat. Menurut Martin (1993), etika didefinisikan sebagai “The discipline which can act as the performance index or reference for our control system”. Etika adalah refleksi dari apa yang disebut “self control”, karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan dari dan untuk kepentingan kelompok sosial (profesi) itu sendiri.

    Profesi, adalah pekerjaan yang dilakukan berkaitan dengan keahlian khusus dalam bidang pekerjaannya. Profesi adalah suatu pekerjaan yang berkaitan dngan bidang yang didominasi oleh pendidikan dan keahlian, yang diikut dengan pengalaman praktik kerja purna waktu. Dilaksanakan dengan mengandalkan keahliannya.

    Sahabat, kita semua hidup dan besar dengan nilai dan norma yang berbeda-beda. Sebagai orang Indonesia, yang terdiri dar berbagai macam suku, agama, golongan, dan kepercayaan pasti menganut berbgai macam nilai dan norma yang berbeda-beda. Sering kali etika-etika sederhana dikehidupan kita sehari-hari luput dari perhatian kita. Apa saja itu? Coba simak ya.

    1. Pemarah. Jika kita mempunyai teman, pasangan, atau keluarga yang sangat mudah sekali marah, apa yang kalian rasakan? Pastilah kita merasa terganggu, kita akan tidak merasa nyaman ada disekitarnya, marah pada dasarnya merupakan sifat dasar seseorang, marah tentu saja diperbolehkan asalkan tidak berlebihan, kita harus bisa mengendalikan emosi kita, karena belum tentu semua orang dapat menerima hal tersebut.
    2. Berbicara dan berlaku kasar. Ketika kita terjun di lingkungan yang cenderung lebih keras maka kemungkinan akan bersikap kasar, baik itu dari segi ucapan maupun perbuatan. Dengan membangun komunikasi yang baik dan mengerti akibatnya terhadap orang lain merupakan salah satu langkah yang dapat dicapai untuk menghilangkan sifat ini.
    3. Berfikir negatif terlalu sering. Berfikir negatif dalam jumlah tertentu dibutuhkan untuk pengembangan diri lebih baik, tetapi jika berlebihan dapat menurunkan rasa percaya diri, mengurangi motivasi, dan selalu menyalahkan keadaan dan orang lain.
    4. Egois. Egois pasti dimiliki oleh setiap individu karena setiap manusia mempunyai hal-hal yang ingin dicapai dan yang diinginkan dalam hidupnya, tetapi jika kita terlalu egois tentu saja akan menimbulkan konflik dengan orang lain karena manusia juga merupakan makhluk sosial untuk itu maka diperlukannya sifat toleransi.
    5. Tidak menepati janji yang telah disepakati. Janji sangatlah penting, jika orang membuat janji lalu tidak ditepati apa yang kalian rasakan? Pasti kita jadi mempunyai pikiran-pikiran negatif kepada orang tersebut. Janji sendiri dapat menunjukkan apakah orang tersebut dapat dipercaya atau tidak. Kepercayaan adalah hal yang sangat penting dalam bersosialisasi. Jika kita tidak dapat menepati janji maka jelas kita tidak bertanggung jawab dan tidak menghargai orang lain maupun diri sendiri.

    Coba simak ya, berikut ini adalah beberapa contoh dari aktivitas tidak beretika profesioanl dalam bekerja sebagai sarjana teknik industri.

    1. Memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi. Contohnya, karena posisi/jabatan seorang profesional menerima “hadiah” dari pemasok barang atau klien lainnya dengan besar nilai yang diluar batas-batas kewajaran.
    2. Tidak dapat menjaga kerahasiaan dan loyalitas perusahaan. Seorang profesional harus punya komitmen yang jelas terhadap segala informasi yang dikategorikan terbatas/rahasia dan juga harus menunjukkan loyaitasnya kepada klien. Pelanggaran berupa pemberian informasi yang seharusnya dijaga kerahasiannya kepada kompetitor jelas merupakan tindakan yang tidak profesional
    3. Membiarkan terjadinya pelanggaran. Kesadaran dan keberanian dari sesama profesi untuk mengingatkan dan melaporkan kejahatan atau pelanggaran kode etik yang terjadi.
    4. Bekerja asal-asalan. Bekerja secara sungguh-sungguh untuk kepentingan masyarakat, sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya adalah tanggung jawab sebagai seorang sarjana teknik. Dengan bekerja secara asal-asalan jelas merupakan tindakan tidak profesional dan tidak bertanggung jawab.
    5. Tidak memegang teguh kehormatan, integritas, dan martabat profesi. Setiap sarjana teknik industri wajib memegang teguh kehormatan, integritas, dan martabat profesinya karena secara tidak langsung jika seseorang melanggar kode etiknya maka akan berpengaruh juga kepada masyarakat dan sarjana teknik industri lainnya.

    Pentingnya memahami etika profesi sebagai sarjana teknik industri adalah untuk menghindarkan segala macam tindakan yang memiliki resiko dan konsekuensi yang serius dari penerapan keahlian profesional, dan memberikan semacam rambu-rambu yang dapat dipakai sebagai rujukan tentang etika profesi yang harus ditaati.

    Selanjutnya adalah beberapa organisasi profesi yang relevan untuk Prodi Teknik Industri selain PII. Berikut ini adalah urainnya.

    1. IIE (Institute of Industrial and System Engineering)
    Institute of Industrial Engineers (IIE) adalah lembaga profesional yang berdedikasi semata-mata untuk mendukung profesi teknik industri dan individu yang terlibat dengan meningkatkan kualitas dan produktivitas. Lembaga ini didirikan pada 1948 dan disebut American Institute of Industrial Engineers sampai 1981, ketika nama ini diubah untuk mencerminkan basis keanggotaan internasionalnya. Anggota termasuk mahasiswa baik dan kaum profesional. IIE menyelenggarakan konferensi regional dan nasional tahunan di Amerika Serikat. IIE bermarkas di Amerika Serikat di Norcross, Georgia, pinggiran yang terletak di timur laut Atlanta.

    2. ISTMI (Ikatan Sarjana Teknik Industri dan Manajemen Industri Indonesia)
    ISTMI sebagai organisasi profesi dari disiplin Ilmu Teknik Industri (TI) dan Manajemen Industri (MI) di Indonesia lahir pada tanggal 22 Nopember 1986 di Jakarta. Kelahiran organisasi ini didasari atas pertimbangan bahwa profesi TI dan MI telah diterima di kalangan yang sangat luas sejak masuknya disiplin sekitar 16 tahun sebelumnya. Keberadaannya sudah menembus batas-batas konvensional keteknikan atau keindustrian.

    3. BKSTI (Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Penyelenggara Pendidikan Tinggi Teknik Industri Indonesia)
    Didirikan pada tanggal 9 Juli 1996 di Aula Barat ITB yang dihadiri oleh perwakilan lebih dari 100 perguruan tinggi. Tujuan pendirian BKSTI ini (lihat Anggaran Dasar BKSTI) adalah memantapkan dan meningkatkan mutu serta relevansi pendidikan tinggi Teknik Industri di Indonesia, menampung dan mencari penyelesaian permasalahan dalam peyelenggaraan pendidikan tinggi Teknik Industri, mengakomodasikan kerjasama antar anggota BKSTI dalam kegiatan pertukaran informasi dan penyelenggaraan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat serta menjadi mitra Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dan stakeholderlainnya dalam bidang pendidikan tinggi Teknik Industri



    Refrensi:

    http://personal.its.ac.id/files/material/1657-m_sritomo-ie-professional%2520%engineer%2520%26%2520etika%2520profesi%2520(insinyur).pdf

    http://dimaslegowo.blogspot.co.id/2016/03/tugas-1-etika-profesi.html


    http://unhas.ac.id/rhiza/arsip/kuliah/etika_profesi/pengertian-etika.ppt


    Minggu, 17 Januari 2016

    Rencana Pemasaran D'Hijab

    GUNADARMA University www.gunadarma.ac.id

       Rencana pemasaran yang saya lakukan untuk menjalankan bisnis jualan hijab online adalah dengan menyebarkan info mengenai akun D'Hijab disekitar lingkungan pergaulan saya, dan saya membuat promo-promo untuk menarik minat pembeli.
          Jadi strategi pemasaran saya adalah strategi mouth to mouth. Dan untuk strategi promosi ada bermacam-macam tergantung dari jenis hijabnya dan disesuaikan dengan modal yang diperlukan dan ha

    Modal Usaha D'Hijab

    GUNADARMA University www.gunadarma.ac.id

             Melanjutkan tulisan saya yang sebelumnya mengenai berjualan hijab online, tentu diperlukannya modal usaha untuk menjalankan bisnis tersebut. Karena ini merupakan bisnis berjualan secara online maka modal yang diperlukan tidak terlalu besar karena tidak diperlukannya biaya untuk menyewa tempat serta biaya-biaya lainnya yang diperlukan jika membuka sebuah toko.
             Biaya yang diperlukan untuk membuka bisnis ini adalah internet serta pulsa. Untuk biaya membeli barang untuk dijual, karena saya memesan hanya jika terdapat pesanan maka biaya yang dikeluarkan untuk membeli barang tidak besar. Kira-kira modal yg diperlukan sebulannya sekitar 300 ribu bisa kurang bisa juga lebih tergantung dari jumlah pesanan yg ada. Modal yang digunakan berasal dari hasil tabungan uang jajan saya sendiri.

    Sabtu, 02 Januari 2016

    AYAH YANG KAYA, AYAH YANG MISKIN PART 2

    GUNADARMA University www.gunadarma.ac.id

    Karena saya mempunyai dua ayah yang berpengaruh, saya belajar dari mereka berdua. Saya harus memikirkan nasihat masing-masing ayah, dan dalam melakukan ini, saya memperoleh wawasan berharga tentang kekuatan dan pengaruh pikiran sesorang pada hidupnya. Misalnya, ayah yang satu mempunyai kebiasaan mengatakan. “Saya tidak mampu membelinya.” Ayah yang lain melarang penggunaan perkataan seperti itu. Dia mendesak saya untuk berkata. “Bagaimana saya bisa membelinya?” Yang satu adalah pernyataan dan yang satunya lagi adalah pertanyaan. Yang satu melepaskan anda dari kesulitan, yang satunya lagi memaksa anda untuk berpikir. Ayah saya yang-segera-menjadi-kaya akan menjelaskan bahwa secara otomatis mengucapkan perkataan, “Saya tidak bisa membelinya,” otak anda berhenti bekerja. Sebaliknya, dengan mengajukan pertanyaan, “Bagaimana saya bisa membelinya?” maka otak anda harus bekerja. Yang dia maksudkan bukanlah membeli segala sesuatu yang anda inginkan. Dia fanatik dalam hal melatih pikiran anda, komputer paling hebat di dunia. “Otak saya semakin kuat setiap harinya karena saya melatihnya. Semakin kuat otak saya, semakin banyak uang yang saya hasilkan.” Dia percaya bahwa selalu mengatakan. “Saya tidak bisa membelinya” adalah sebuah tanda kemalasan.
    Meskipun kedua ayah saya bekerja keras, saya memperhatikan ayah yang satu mempunyai kebiasaan menidurkan otaknya bila sampai pada urusan uang, sementara yang satunya mempunyai kebiasaan melatih otaknya. Hasil jangka panjangnya adalah bahwa ayah yang sama tumbuh lebih kuat secara finansial dan yang satunya lebih lemah. Ini tidak jauh berbeda dengan orang yang pergi ke pusat kebugaran untuk berolahraga secara rutin versus seseorang yang setiap hari duduk di sofa menonton tv. Latihan fisik yang pas dan cocok meningkatkan peluang kesehatan anda, dan latihan mental yang pas dan cocok meningkatkan peluang kemakmuran anda. Kemalasan menurunkan baik kesehatan maupun kemakmuran.
    Kedua ayah saya mempunyai sikap yang bertentangan dalam cara berfikir. Ayah yang satu berpikir bahwa yang kaya harus membayar pajak lebih banyak untuk membantu dan memelihara mereka yang kurang beruntung. Satunya lagi berkata, “Pajak menghukum mereka yang berproduksi dan menghadiahi mereka yang tidak berproduksi.”ayah yang satu merekomendasikan, “Belajarlah yang giat sehingga kamu dapat menemukan sebuah perusahaan yang baik untuk bekerja.” Satunya lagi merekomendasikan, “Belajarlah yang giat sehingga kamu menemukan perusahaan yang baik untuk kamu beli.”
    Yang satu mangatakan. “Alasan saya tidak kaya adalah karen saya mempunyai kamu, nak.” Satunya lagi mengatakan, “Alasan saya harus kaya adalah karena saya mempunyai kamu, nak.”
    Yang satu mendorong untuk membicarakan soal uang dan bisnis di meja makan. Satunya lagi melarang keras untuk membicarakan masalah uang saat makan.
    Yang satu berkata, ”Bila sampai pada urusan uang, bermainlah dengan aman, jangan mengambil resiko.” Satunya lagi mengatakan, “Belajarlah mengelola resiko.”
    Yang satu percaya, “Rumah kita adalah investasi terbesar kita dan juga aset kita yang terbesar.” Satunya lagi percaya, “Rumah saya adalah liabilitas (kewajiban), dan jika rumahmu adalah aset terbesar, kamu akan mendapat masalah.”
    Kedua ayah saya membayar rekening pada waktunya, tetapi yang satu membayar rekeningnya duluan (sebagai hal yang pertama) sementara yang satunya lagi membayar rekeningnya belakangan.
    Yang satu percaya bahwa perusahaan atau pemerintah akan mengurus anda dan kebutuhan anda. Dia selalu peduli dengan kenaikan upah, program pensiun, tunjangan kesehatan, cuti sakit, hari libur, dan berbagai perbaikan lainnya. Dia terkesan dengn dua pamannya yang bergabung dengan militer dan memperoleh tunjangan pensiun dan berbagai keuntungan lainnya. Terkadang, gagasan perlindungan kerja untuk kehidupan dan keuntungan kerja tampak lebih penting daripada pekerjaan itu sendiri.
    Satunya lagi percaya pada sikap mandiri penuh dalam soal finansial. Dia dengan lantang menentang mentalitas “berhak” dan bagaimana hal itu menciptakan orang yang lemah dan sangat miskin secara finansial. Dia sangat tegas dalam menjadi kompeten secara finansial.
    Ayah yang satu berjuang keras untuk menabung beberapa dolar. Sedangkan satunya lagi sibuk menciptakan investasi.
    Ayah yang satu mengajarkan saya bagaimana menulis resume yang mengesankan sehingga saya bisa mendapatkan pekerjaan yang baik. Satunya lagi mengajar saya bagaimana menulis rencana bisnis dan finansial yang kuat sehingga saya bisa menciptakan pekerjaan bagi orang lain.
    Menjadi produk dua ayah yang kuat dan berpengaruh memberi saya kesempatan mewah untuk mengamati pengaruh pikiran yang berbeda pada hidup seseorang. Saya memperhatikan bahwa orang sungguh-ssungguh membentuk hidup mereka melalui pikiran mereka.
    Contohnya, ayah saya yang miskin selalu berkata, “Saya tidak akan pernah kaya.” Dan ramalan itu menjadi kenyataan. Ayah saya yang kaya, sebaliknya, selalu menunjuk dirinya sebagai orang yang kaya. Dia akan mengatakan hal-hal seperti ini. “Saya orang yang kaya, dan orang kaya tidak melakukan hal ini.” Bahkan ketika dia benar-benar bangkrut setelah menderita kemerosotan finansial yang hebat, dia terus menunjuk dirinya sebagai orang yang kaya. Dia akan menutupi dirinya dengan mengatakan, “Ada perbedaan antara menjadi miskin dan menjadi bangkrut. Bangkrut adalah untuk sementara waktu, dan miskin adalah untuk selamanya.”
    Ayah saya yang minskin juga akan mengatakan, “Saya tidak tertarik pada uang,” atau “Uang tidak penting.” Ayah saya yang kaya selalu mengatakan.” Uang adalah kekuatan, kekuasaan.”
    Jadi kekuatan pikiran kita mungkin tidak pernah diukur atau dihargai, tetapi menjadi jelas bagi saya bocah yang masih muda untuk menyadari pikiran saya dan bagaimana saya mengekspresikan diri saya. Saya memperhatikan bahwa ayah saya yang miskin adalah miskin bukan karena jumlah uang yang dia hasilkan, yang sebenarnya besar, tetapi karena pikiran dan tindakannya. Sebagai anak muda, dan memupunyai dua ayah, saya menjadi benar-benar sadar untuk berhati-hati memilih pikiran-pikiran mana yang akan saya ambil sebagai pikiran saya sendiri. Siapa yang harus saya dengarkan-ayah saya yang kaya atau ayah saya yang miskin?
    Meskipun kedua pria itu mempunyai respek yang sangat tinggi terhadap pendidikan dan pembelajaran, mereka tidak sepakat dalam apa yang mereka pikir penting untuk dipelajari.
    Yang satu menginginkan saya belajar keras, memperoleh gelar, dan mendapat pekerjaan baik untuk menghasilkan uang. Dia menginginkan saya untuk belajar menjadi seorang profesional, seorang pengacara, atau akuntan atau ke sekolah bisnis untuk mendapat gelar MBA. Satunya lagi mendorong saya untuk belajar menjadi kaya, untuk memahami bagaimana uang bekerja, dan belajar bagaimana membuat uang bekerja untuk saya. “Saya tidak bekerja untuk uang!” adalah perkataan yang dia ulang berkali-kali, “Uang bekerja untuk saya!”
    Pada umur 9 tahun, saya memutuskan untuk mendengarkan dan belajar dari ayah saya yang kaya mengenai soal uang. Karena itu, saya memilih untuk tidak mendengarkan ayah saya yang miskin, sekalipun dia memiliki semua gelar universitas.

    Sumber:

    Kiyosaki, Robert T. 1998. Rich Dad, Poor Dad. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

    AYAH YANG KAYA, AYAH YANG MISKIN PART 1

    GUNADARMA University www.gunadarma.ac.id

    Saya mempunyai dua ayah, yang satu kaya dan yang satu miskin. Yang satu berpendidikan tinggi dan inteligen; dia mempunyai gelar Ph.D. dan menyelesaikan empat tahun pendidikan sarjananya hanya dalam waktu kurang dari dua tahun. Kemudian dia melanjutkan studinya ke Stanford University, University of Chicago, dan North-western University, semuanya dengan beasiswa penuh. Ayah yang satunya tidak pernah menyelesaikan pendidikan SMP-nya.
    Kedua ayah saya itu berhasil dalam karier mereka, bekerja keras seumur hidup mereka. Keduanya memperoleh penghasilan besar. Tapi yang satu berjuang keras atau bersusah payah secara finansial sepanjang hidupnya. Sedang yang satunya kelak menjadi salah satu orang terkaya di Hawaii. Yang satu mati meninggalkan puluhan juta dolar untuk keluarganya, amal kasih, dan gerejanya. Yang satunya mati meninggalkan banyak tagihan/utang untuk dibayar atau dilunasi.
    Kedua pria itu kuat, kharismatik, dan berpengaruh. Keduanya memberi saya nasihat, tetapi nasihat mereka tidak sama, bahkan kerap sangat berbeda dan bertentangan. Keduanya dangat percaya pada pendidikan tetapi tidak merekomendasikan jalur studi yang sama.
    Seandainya saya hanya mempunyai satu ayah, saya harus menerima atau menolak nasihatnya. Mempunyai dua ayah yang menasihati saya menawarkan pada saya pilihan sudut pandang yang berbeda, satu dari pria yang kaya dan satunya dari pria yang miskin.
    Ternyata saya tidak sekedar menerima atau menolak yang satu atau yang lain, tetapi saya berpikir lebih jauh, membanding-bandingkan dan kemudian memilih untuk diri saya sendiri.
    Masalahnya adalah ayah yang kaya belum sungguh-sungguh kaya dan ayah yang miskin tidaklah miskin. Keduanya baru saja memulai karier mereka, dan keduanya berjuang keras dalam soal uang dan keluarga. Tetapi mereka mempunyai pandangan yang berbeda tentang masalah uang.
    Misalnya ayah yang satu akan mengatakan, “cinta akan uang adalah akar segala kejahatan.” Yang lain mengatakan, “Kekurangan uang adalah akar segala kejahatan”.
    Sebagai anak muda, mempunyai dua ayah yang kuat dan berpengaruh pada saya bukanlah soal mudah. Saya ingin menjadi anak yang baik dan mendengarkan, tetapi kedua ayah tu tidak mengatakan hal yag sama. Pebedaan pandangan mereka, terutama bila menyangkut soal uang, begitu ekstrem sehingga saya tumuh dengan rasa ingin tahu yang besar. Saya mulai berpikir untuk jangka waktu yang lama tentang apa yang dikatakan oleh mereka masing-masing.
    Banyak waktu pribadi saya habis untuk merefleksikan, bertanya-tanya dalam hati, “Mengapa ayah berkata begitu?” dan kemudian menanyakan pertanyaan yang sama terhadap perkataan ayah yang satunya lagi. Akan jauh lebih mudah untuk mengatakan, “Ya, dia benar. Saya setuju dengan itu.” Atau menolak sudut pandangnya dengan mengatakan, “Ayah tidak tahu apa yang dia omongkan.” Sebaliknya mempunyai dua ayah yang saya cintai memaksa saya untuk berpikir dan akhirnya memilih suatu cara berpikir untuk diri saya sendiri. Sebagai sebuah proses, memilih (sudut pandang yang berbeda/bertentangan) untuk diri saya akhirnya jauh lebih berharga untuk jangka panjang, ketimbang Cuma menerima atau menolak satu sudut pandang.
    Salah satu alasan yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin, dan kelas menengah terjerat utang adalah karena masalah uang diajarkan di rumah, dan tidak di sekolah, kita kebanyakan belajar soal uang dari orangtua kita. Artinya, apa yang didapat diajarkan oleh orangtua yang miskin kepada anak-anak mereka mengenai uang? Mereka hanya mengatakan, “Teruslah sekolah dan belajarlah yang giat, “Si anak mungkin lulus dengan peringkat yang mengagumkan tetapi dengan sikap mental dan program finansial orang miskin. Itu dipelajari sewaktu anak tersebut masih muda.

    Uang tidak diajarkan di sekolah. Sekolah berfokus pada keterampilan di bidang pelajaran dan keterampilan profesional, bukan pada keterampilan finansial. Ini menjelaskan bagaimana bankir, dokter, dan akuntan yang pandai dan memperoleh ranking yang tinggi di sekolah masih harus berjuang secara finansial sepanjang hidup mereka. Utang nasional kita yang menggunung sebagian besar disebabkan karena para politikus dan pejabat pemerintah yang berpendidikan tinggi membuat keputusan finansial dengan sedikit atau bahkan sama sekali tanpa latihan mengenai masalah uang.


    Sumber:
    Kiyosaki, Robert T. 1998. Rich Dad, Poor Dad. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

    INILAH YANG SAYA CARI-CARI

    GUNADARMA University www.gunadarma.ac.id

    CASHFLOW (arus kas), produk pendidikan baru yang dikembangkan oleh Robert Kiyosaki. Tetapi produk ini, yang berupa permainan, mempunyai sebuah metode yang khusus: permainan ini mirip seperti papan monopoli yang berwarna-warni dengan seekor tikus raksasa berpakaian bagus ditengahnya. Akan tetapi tidak seperti monopoli, dipapan itu ada dua jalur: satu didalam dan satu diluar. Tujuan permainan ini adalah keluar dari jalur yang didalam-yang disebut oleh Robert adalah “Perlombaan Tikus”-dan mencapai jalur yang diluar-“Jalur Cepat”. Seperti yang Robet katakan, jalur cepat menstimulir bagaimana orang-orang kaya bermain dalam kehidupan riil.
    “Jika anda melihat kehidupan orang-orang yang pendidikannya sedang-sedang saja dan bekerja keras, ada jalan yang serupa. Anda dilahirkan dan pergi ke sekolah. Orangtua bangga dan senang karena anaknya unggul, memperoleh nilai baik dengan jujur, dan diterima disebuah universitas bergengsi. Anak itu lulus, mugkin melanjutkan ke program pasca sarjana, dan kemudian melakukan persis seperti yang telah diprogramkan: mencari sebuah pekerjaan atau karier yang aman dan terjamin. Si anak mendapatkan pekerjaan itu, mungkin sebagai seorang dokter atau pengacara, atau bergabung dengan Angkatan Bersenjata atau menjadi pegawai negeri. Biasanya, si anak mulai menghasilkan uang, kartu kredit mulai dikoleksi, dan belanja pun dimulai.
    “Karena sudah mempunyai uang untuk dibelanjakan, sang anak pergi ke tempat-tempat di mana anak-anak muda lainnya senang berkumpul, dan mereka bertemu banyak orang, mereka berkencan, dan kadang-kadang menikah. Saat ini aktivitas hidup telah berubah sangat banyak, karena sekarang, baik pria maupun wanita bekerja. Dua penghasilan dalam sebuah keluarga tentu menggembirakan. Mereka merasa berhasil, masa depan cerah, dan mereka memutuskan untuk membeli rumah, mobil, televisi, berlibur, dan mempunyai anak. Segumpal kegembiraan tiba. Permintaan uang tunai sangat besar. Pasangan yang bahagia itu memutuskan bahwa karier mereka sungguh sangat penting dan mereka pun mulai bekerja lebih keras, mencai promosi dan kenaikan gaji maupun jabatan. Kenaikan-kenaikan pun datang, dan mereka juga mempunyai seorang anak lagi sehingga membutuhkan rumah yang lebih besar.
    Mereka bekerja lebih keras, menjadi karyawan yang lebih baik, bahkan lebih berdedikasi. Mereka bersekolah kembali untuk memperoleh keterampilan yang lebih terspesialisasi dengan harapan bisa menghasilkan uang lebih banyak. Mungkin mereka mencari kerja tambahan atau sambilan. Penghasilan mereka pun naik, tetapi pajak-pajak yang harus mereka bayar pun semakin bertambah: pajak atas rumah baru yang lebih besar, pajak kendaraan, dan pajak-pajak lainnya. Mereka memperoleh cek gaji yang besar, dan bertanya-tanya kemana larinya seluruh uang itu. Mereka membeli beberapa reksa dana (mutual funds) dan membeli kebuthan rumah tangga dengan kartu kredit. Anak-anak berumur 5 atau 6 tahun, dan kebutuhan untuk menabung agar mereka kelak bisa kuliah juga naik, begitu pula kebutuhan menabung untuk hari tua (masa pensiun) mereka.
    “Pasangan bahagia itu, yang lahir 35 tahun yang lalu, sekarang terperangkap dalam perlombaan tikus selama sisa harihari kerja mereka. Mereka bekerja untuk para pemilik perusahaan mereka, atau untuk pemerintah, untuk membayar pajak, hipotek bank, dan tagihan kartu-kartu kredit.
    “Kemudian, mereka menasehati anak-anak mereka sendiri untuk rajin belajar, memperoleh ranking yang baik, dan mendapatkan pekerjaan atau karier yang aman dan terjamin.” Mereka tidak belajar apapun tentang uang, kecuali dari mereka yang mendapat keuntungan dari kenaifan mereka, dan bekerja keras sepanjang hidup mereka. Proses itu terulang dalam generasi berikutnya yang bekerja keras. Ini adalah “Perlombaan Tikus”.
    Satu-satunya cara untuk keluar dari “Perlombaan Tikus” adalah membuktikan keahlian mereka baik dalam akuntansi maupun investasi dengan memperdebatkan dua topik yang paling sulit untuk dikuasai. Meskipun saya senang karena mereka semua belajar begitu banyak hal, saya sangat terusik oleh ketidaktahuan mereka mengenai dasar-dasar akuntansi dan investasi yang sederhana. Mereka sulit untuk menangkap hubungan antara laporan laba rugi dan neraca mereka. Ketika mereka membeli dan menjual aset, mereka sulit untuk mengingat bahwa setiap transaksi dapat mempengaruhi uang kas bulanan mereka. Saya pikir, berapa juta orang di dunia riil bersusah payah secara finansial, hanya karena mereka tidak pernah diajari masalah ini?
    -Sharon Lechter

    Sumber:

    Kiyosaki, Robert T. 1998. Rich Dad, Poor Dad. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.