Sabtu, 02 Januari 2016

AYAH YANG KAYA, AYAH YANG MISKIN PART 1

GUNADARMA University www.gunadarma.ac.id

Saya mempunyai dua ayah, yang satu kaya dan yang satu miskin. Yang satu berpendidikan tinggi dan inteligen; dia mempunyai gelar Ph.D. dan menyelesaikan empat tahun pendidikan sarjananya hanya dalam waktu kurang dari dua tahun. Kemudian dia melanjutkan studinya ke Stanford University, University of Chicago, dan North-western University, semuanya dengan beasiswa penuh. Ayah yang satunya tidak pernah menyelesaikan pendidikan SMP-nya.
Kedua ayah saya itu berhasil dalam karier mereka, bekerja keras seumur hidup mereka. Keduanya memperoleh penghasilan besar. Tapi yang satu berjuang keras atau bersusah payah secara finansial sepanjang hidupnya. Sedang yang satunya kelak menjadi salah satu orang terkaya di Hawaii. Yang satu mati meninggalkan puluhan juta dolar untuk keluarganya, amal kasih, dan gerejanya. Yang satunya mati meninggalkan banyak tagihan/utang untuk dibayar atau dilunasi.
Kedua pria itu kuat, kharismatik, dan berpengaruh. Keduanya memberi saya nasihat, tetapi nasihat mereka tidak sama, bahkan kerap sangat berbeda dan bertentangan. Keduanya dangat percaya pada pendidikan tetapi tidak merekomendasikan jalur studi yang sama.
Seandainya saya hanya mempunyai satu ayah, saya harus menerima atau menolak nasihatnya. Mempunyai dua ayah yang menasihati saya menawarkan pada saya pilihan sudut pandang yang berbeda, satu dari pria yang kaya dan satunya dari pria yang miskin.
Ternyata saya tidak sekedar menerima atau menolak yang satu atau yang lain, tetapi saya berpikir lebih jauh, membanding-bandingkan dan kemudian memilih untuk diri saya sendiri.
Masalahnya adalah ayah yang kaya belum sungguh-sungguh kaya dan ayah yang miskin tidaklah miskin. Keduanya baru saja memulai karier mereka, dan keduanya berjuang keras dalam soal uang dan keluarga. Tetapi mereka mempunyai pandangan yang berbeda tentang masalah uang.
Misalnya ayah yang satu akan mengatakan, “cinta akan uang adalah akar segala kejahatan.” Yang lain mengatakan, “Kekurangan uang adalah akar segala kejahatan”.
Sebagai anak muda, mempunyai dua ayah yang kuat dan berpengaruh pada saya bukanlah soal mudah. Saya ingin menjadi anak yang baik dan mendengarkan, tetapi kedua ayah tu tidak mengatakan hal yag sama. Pebedaan pandangan mereka, terutama bila menyangkut soal uang, begitu ekstrem sehingga saya tumuh dengan rasa ingin tahu yang besar. Saya mulai berpikir untuk jangka waktu yang lama tentang apa yang dikatakan oleh mereka masing-masing.
Banyak waktu pribadi saya habis untuk merefleksikan, bertanya-tanya dalam hati, “Mengapa ayah berkata begitu?” dan kemudian menanyakan pertanyaan yang sama terhadap perkataan ayah yang satunya lagi. Akan jauh lebih mudah untuk mengatakan, “Ya, dia benar. Saya setuju dengan itu.” Atau menolak sudut pandangnya dengan mengatakan, “Ayah tidak tahu apa yang dia omongkan.” Sebaliknya mempunyai dua ayah yang saya cintai memaksa saya untuk berpikir dan akhirnya memilih suatu cara berpikir untuk diri saya sendiri. Sebagai sebuah proses, memilih (sudut pandang yang berbeda/bertentangan) untuk diri saya akhirnya jauh lebih berharga untuk jangka panjang, ketimbang Cuma menerima atau menolak satu sudut pandang.
Salah satu alasan yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin, dan kelas menengah terjerat utang adalah karena masalah uang diajarkan di rumah, dan tidak di sekolah, kita kebanyakan belajar soal uang dari orangtua kita. Artinya, apa yang didapat diajarkan oleh orangtua yang miskin kepada anak-anak mereka mengenai uang? Mereka hanya mengatakan, “Teruslah sekolah dan belajarlah yang giat, “Si anak mungkin lulus dengan peringkat yang mengagumkan tetapi dengan sikap mental dan program finansial orang miskin. Itu dipelajari sewaktu anak tersebut masih muda.

Uang tidak diajarkan di sekolah. Sekolah berfokus pada keterampilan di bidang pelajaran dan keterampilan profesional, bukan pada keterampilan finansial. Ini menjelaskan bagaimana bankir, dokter, dan akuntan yang pandai dan memperoleh ranking yang tinggi di sekolah masih harus berjuang secara finansial sepanjang hidup mereka. Utang nasional kita yang menggunung sebagian besar disebabkan karena para politikus dan pejabat pemerintah yang berpendidikan tinggi membuat keputusan finansial dengan sedikit atau bahkan sama sekali tanpa latihan mengenai masalah uang.


Sumber:
Kiyosaki, Robert T. 1998. Rich Dad, Poor Dad. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar